Jan 5, 2026

Bahaya "Yo-Yo Dieting": Kenapa Berat Badan Cepat Turun tapi Cepat Naik Lagi?



Banyak orang terjebak dalam siklus menurunkan berat badan secara drastis, hanya untuk melihat angka timbangan tersebut kembali naik dalam waktu singkat—bahkan terkadang lebih berat dari sebelumnya. Fenomena ini dikenal dengan istilah Yo-Yo Dieting atau weight cycling.

Meski terlihat seperti perjuangan biasa dalam menurunkan berat badan, pola ini ternyata menyimpan risiko kesehatan yang serius. Terjebak siklus berat badan naik-turun? Kenali bahaya Yo-Yo Dieting bagi metabolisme dan cara menghentikannya secara permanen di sini. Mari kita bedah mengapa fenomena ini terjadi dan apa bahayanya bagi tubuh Anda.

Apa Itu Yo-Yo Dieting?
Yo-Yo Dieting adalah pola kehilangan berat badan yang diikuti dengan penambahan berat badan kembali secara berulang. Dinamakan "Yo-Yo" karena prosesnya menyerupai gerakan mainan yoyo yang naik dan turun dengan cepat. Biasanya, hal ini dipicu oleh diet ekstrem atau crash diet yang tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

Kenapa Berat Badan Cepat Naik Lagi? (Penyebab Medis)
Ada alasan biologis yang kuat mengapa tubuh Anda seolah "memberontak" setelah diet ketat:
  1. Penurunan Laju Metabolisme: Saat Anda mengurangi kalori secara drastis, tubuh beralih ke mode bertahan hidup (starvation mode). Metabolisme melambat untuk menghemat energi. Akibatnya, saat Anda mulai makan normal kembali, tubuh tidak lagi membakar kalori seefisien dulu.
  2. Hormon Kelaparan yang Meningkat: Diet ekstrem mengacaukan hormon Leptin (hormon kenyang) dan Ghrelin (hormon lapar). Tubuh akan memproduksi lebih banyak Ghrelin, membuat Anda merasa lapar sepanjang waktu.
  3. Kehilangan Massa Otot: Saat berat badan turun dengan sangat cepat, yang hilang bukan hanya lemak, tetapi juga jaringan otot. Karena otot membakar lebih banyak kalori daripada lemak, kehilangan otot berarti metabolisme Anda akan semakin anjlok.
Bahaya Yo-Yo Dieting bagi Kesehatan
Siklus naik-turun berat badan ini lebih berbahaya daripada mempertahankan berat badan yang sedikit berlebih namun stabil. Berikut adalah risikonya:
  • Peningkatan Persentase Lemak Tubuh: Pada fase "naik lagi", tubuh cenderung menimbun lebih banyak lemak perut (visceral fat) dibandingkan otot.
  • Risiko Penyakit Jantung: Perubahan berat badan yang fluktuatif dapat menyebabkan peradangan pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
  • Diabetes Tipe 2: Yo-Yo dieting sering kali dikaitkan dengan resistensi insulin, yang merupakan cikal bakal diabetes.
  • Dampak Psikologis: Gagal mempertahankan berat badan dapat memicu stres, depresi, dan rasa rendah diri yang kronis.

Cara Menghentikan Siklus Yo-Yo Dieting
Untuk mendapatkan berat badan yang ideal dan permanen, kuncinya bukan pada diet ketat sesaat, melainkan pada perubahan gaya hidup:
  • Target yang Realistis: Turunkan berat badan secara perlahan (0,5 – 1 kg per minggu).
  • Fokus pada Protein dan Serat: Membantu menjaga massa otot dan membuat Anda kenyang lebih lama.
  • Latihan Beban: Penting untuk menjaga metabolisme tetap tinggi dengan membangun otot.
  • Perbaiki Hubungan dengan Makanan: Jangan menganggap makanan sebagai musuh, melainkan sebagai bahan bakar tubuh.
Semoga bermanfaat,







Daftar Pustaka

  1. Bacon, L., & Aphramor, L. (2011). Weight Science: Evaluating the Evidence for a Paradigm Shift. Nutrition Journal.
  2. Dulloo, A. G., & Montani, J. P. (2015). Pathways from dieting to weight regain, to obesity and to the metabolic syndrome: an overview. Obesity Reviews.
  3. Harvard Health Publishing (2022). The ups and downs of weight cycling. Harvard Medical School.
  4. Montani, J. P., et al. (2015). Weight cycling during growth and beyond as a risk factor for later cardiovascular diseases. Physiology & Behavior.

No comments:

Post a Comment