Trauma psikologis muncul ketika seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengancam nyawa atau integritas fisik, yang kemudian melampaui kapasitas koping individu tersebut. Jika dampak trauma ini menetap selama lebih dari satu bulan dan mengganggu fungsi hidup, kondisi ini sering didiagnosis sebagai Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Secara fisiologis, PTSD ditandai dengan kondisi "siaga tinggi" yang permanen di otak, di mana bagian amigdala (pusat emosi) menjadi terlalu aktif, sementara korteks prefrontal (pusat logika) kesulitan untuk menenangkan respons rasa takut tersebut.
Langkah awal dalam menyembuhkan trauma adalah menciptakan rasa aman secara fisik dan emosional. Penyintas trauma sering kali merasa terputus dari tubuh mereka sendiri atau merasa lingkungan sekitar selalu mengancam. Teknik grounding sangat disarankan dalam fase ini; misalnya dengan teknik 5-4-3-2-1 (menyebutkan 5 benda yang dilihat, 4 yang disentuh, hingga 1 yang dirasa) untuk menarik kesadaran kembali ke masa sekarang dan menghentikan kilas balik (flashbacks). Memahami bahwa reaksi tubuh—seperti jantung berdebar atau keringat dingin—adalah respons biologis yang wajar terhadap memori masa lalu dapat membantu mengurangi rasa malu atau bersalah yang sering dirasakan penyintas.
Dalam dunia psikologi klinis, metode Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) telah terbukti secara literasi sangat efektif untuk PTSD. Terapi ini membantu otak memproses ingatan traumatis yang "terjebak" sehingga ingatan tersebut tidak lagi memiliki muatan emosional yang melumpuhkan. Selain itu, terapi berbasis bicara seperti Prolonged Exposure juga membantu individu menghadapi ketakutannya secara bertahap dalam lingkungan yang terkendali. Tidak kalah penting, pendekatan somatik atau terapi berbasis tubuh seperti yoga khusus trauma dapat membantu melepaskan ketegangan yang tersimpan dalam sistem saraf otot yang sering kali tidak terjangkau hanya dengan kata-kata.
Dukungan lingkungan sekitar merupakan pilar penopang dalam perjalanan penyembuhan trauma. Masyarakat perlu diedukasi untuk tidak melakukan viktimisasi sekunder atau menuntut penyintas untuk "cepat melupakan" kejadian tersebut. Pemulihan trauma bukanlah tentang melupakan apa yang terjadi, melainkan tentang mengintegrasikan pengalaman tersebut ke dalam narasi hidup sehingga ia tidak lagi mendikte masa depan seseorang. Dengan kesabaran, pendampingan profesional yang tepat, dan kasih sayang terhadap diri sendiri, seorang penyintas dapat bergerak dari fase bertahan hidup (surviving) menuju fase berkembang kembali (thriving).

No comments:
Post a Comment