Dec 31, 2025

Berani Berkata Tidak: Mengapa Batasan Adalah Benteng Utama Kesehatan Mental

Seringkali kita merasa kehabisan energi emosional bukan karena beban kerja yang berat, melainkan karena ketidakmampuan kita untuk menarik garis tegas dalam hubungan antarpribadi. Membangun batasan atau boundaries bukanlah tindakan yang egois atau kasar; sebaliknya, ini adalah tindakan penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain. Tanpa batasan yang jelas, kita membiarkan orang lain menentukan agenda hidup kita, menguras waktu kita, hingga melanggar ruang emosional yang seharusnya menjadi tempat kita memulihkan diri. Kesehatan mental yang tangguh sangat bergantung pada kemampuan kita untuk mengidentifikasi di mana diri kita berakhir dan di mana orang lain dimulai.

Banyak individu terjebak dalam pola people pleasing—keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain demi menghindari konflik atau mendapatkan validasi. Pola ini jika dibiarkan akan menyebabkan kebencian yang terpendam (resentment) dan kelelahan mental yang kronis. Saat kita memaksakan diri untuk mengatakan "ya" padahal batin kita berteriak "tidak", kita sebenarnya sedang mengkhianati kebutuhan diri sendiri. Batasan yang sehat memungkinkan kita untuk memberi dari tempat yang penuh, bukan dari sisa-sisa energi yang sudah terkuras habis. Ini menciptakan hubungan yang lebih jujur, di mana bantuan yang diberikan benar-benar tulus tanpa adanya beban paksaan.

Terdapat berbagai jenis batasan yang perlu kita jaga: batasan fisik (ruang pribadi), batasan waktu (keseimbangan kerja-hidup), dan batasan emosional (memisahkan perasaan kita dari perasaan orang lain). Di era digital 2025 ini, batasan digital juga menjadi sangat penting, seperti tidak membalas pesan pekerjaan di luar jam kantor atau menonaktifkan notifikasi saat waktu keluarga. Menetapkan batasan ini memerlukan komunikasi yang asertif—kemampuan untuk menyampaikan kebutuhan kita dengan jelas dan tenang tanpa harus menyerang orang lain. Orang yang benar-benar menghargai kita akan menghormati batasan yang kita buat, karena mereka memahami bahwa kesejahteraan kita adalah prioritas.

Berikut adalah sebuah kutipan tentang keberanian dalam menjaga batasan diri:
"Dinding yang Anda bangun untuk melindungi ketenangan batin bukanlah penjara bagi orang lain, melainkan sebuah pintu yang hanya akan terbuka bagi mereka yang tahu cara mengetuk dengan rasa hormat."

Menetapkan batasan mungkin terasa tidak nyaman pada awalnya, terutama jika kita terbiasa mengabaikan diri sendiri. Mungkin ada perasaan bersalah atau takut dianggap sombong. Namun, perlu diingat bahwa kita bertanggung jawab atas kesehatan mental kita sendiri, bukan atas reaksi orang lain terhadap batasan yang kita tetapkan. Seiring berjalannya waktu, orang-orang di sekitar kita akan belajar bagaimana berinteraksi dengan kita secara lebih sehat. Batasan yang konsisten justru akan menyaring hubungan mana yang layak dipertahankan dan mana yang bersifat toksik bagi pertumbuhan jiwa kita.

Sebagai penutup dari rangkaian delapan artikel kesehatan mental ini, penting untuk menyadari bahwa semua strategi—mulai dari nutrisi, tidur, hingga mindfulness—tidak akan efektif jika kita terus membiarkan lingkungan sosial "menjarah" kedamaian batin kita. Menjaga batasan adalah cara kita merawat ekosistem mental agar tetap subur dan aman. Dengan memiliki kendali penuh atas ruang pribadi kita, kita memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari diri sendiri, siap menghadapi tantangan tahun-tahun mendatang dengan kepala tegak dan hati yang tenang.


Daftar Pustaka
  • Cloud, H., & Townsend, J. (2024). Boundaries: When to Say Yes, How to Say No to Take Control of Your Life (New Updated Edition).
  • Tawwab, N. G. (2023). Set Boundaries, Find Peace: A Guide to Reclaiming Yourself.
  • Journal of Social and Personal Relationships (2025). The Impact of Emotional Boundaries on Psychological Well-being.
  • Kementerian Kesehatan RI (2025). Hubungan Interpersonal yang Sehat dan Dampaknya pada Kesehatan Jiwa.



No comments:

Post a Comment